Jumat, 04 September 2015

BAB III PERENCANAAN DAN PENGAJARAN


BAB III
PERENCANAAN DAN PENGAJARAN

Sebelum menyusun perencanaan untuk pembelajaran, sedikitnya ada 5 pertanyaan yang harus dijawab oleh guru yaitu:
1.        Apa yang harus menjadi dasar guru matematika sebelum mulai untuk merencanakan?
2.        Mengapa guru harus berhati-hati dalam menyususn rencana pembelajaran?
3.        Apa tingkat perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru?
4.        Bagaimana usaha/cara guru untuk memenuhi kebutuhan semua siswa?
5.        Bagaimana guru mengintegrasikan perencanaan dengan menilai dan menganalisis?





        PENDAHULUAN

      Guru dapat memainkan berbagai peran yang berbeda di dalam kelas: konselor, tukang kebun, petugas polisi, orang tua, aktor, arsitek, teman, buku, cheerleader, dan lain-lain. Peran apa yang dapat kita mainkan? Sampai batas tertentu, yang tergantung pada kepribadian kita, sekolah kita, para siswa di kelas kita, dan berbagai faktor lainnya, tetapi semua guru harus memainkan peran sebagai instruktur. Peran instruktur melibatkan empat (4) fungsi dasar:
1.        Perencanaan
2.        Pengajaran
3.        Menilai
4.        Menganalisis
Pada waktu menyusun  rencana memutuskan fokus pelajaran (tujuan), dan kemudian menetapkan metode untuk melaksanakan pembelajaran, dengan menggunakan sumber belajar dari buku teks atau kurikulum. Lalu guru melaksanakan pembelajaran dengan menyajikan masalah, memberikan arah, mengajukan pertanyaan, mendengarkan, mengamati, dan memberikan umpan balik kepada siswa. Selama dan setelah pembelajaran guru menilai pemahaman siswa, akhirnya dianalisis tentang hasil belajarnya.
       Guru mendiskusikan tingkat perencanaan (untuk tahun ini, untuk unit, untuk pelajaran) berencana untuk berbagai jenis pelajaran, dan berencana untuk memenuhi kebutuhan semua siswa. Sepanjang diskusi-diskusi, kita menunjukkan bagaimana mengajukan pertanyaan dan membuat rencana dapat diterjemahkan ke dalam praktek pengajaran yang sebenarnya dalam ruang kelas. Dalam pembahasan bab ini juga membuat rekomendasi umum untuk mengajar matematika dalam kontek itu. Dalam bab ini juga mencerminkan penerimaan kita dari gagasan bahwa anak-anak secara aktif membangun pemahaman baru mereka sendiri karena mereka membangun pengetahuannya dari apa yang mereka telah ketahui sebelumnya.
        
           
Mempersiapkan untuk mengajar: sebelum perencanaan dimulai.
            Mengajar matematika kepada anak-anak adalah tugas yang kompleks. Sebagai guru kita harus membuat banyak keputusan-keputusan selama pembelajaran. Tapi ada banyak hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu untuk meningkatkan kemungkinan bahwa tahun ini, setiap unit, dan setiap pelajaran akan berhasil untuk semua peserta didik yang beragam di kelas kita. Untuk mewujudkannya kita harus menjawab beberapa pertanyaan penting sebelum pelajaran dimulai, bahkan sebelum kita menulis rencana pembelajaran. Berikut beberapa pertanyaan yang harus dijawab guru:
1. Apakah saya telah memahami matematika sebelum saya mengajarkannya?
      Guru saat ini dituntut tidak hanya mengajar matematika dengan cara yang berbeda dari bagaimana mereka diajarkan di sekolah dasar, tetapi juga untuk mengajarkan topik dan konsep ketika mereka tidak belajar di sekolah. Ketika kita akan mengajarkan sesuatu materi yang kita sendiri tidak banyak pengetahuan tentang itu, maka pekerjaan pertama yang harus kita lakukan adalah mempelajari dengan baik tentang hal itu. Hal ini dibuat dalam prinsip NTCM dan Standar (2000), yang menyatakan, pemahaman matematika siswa merupakan kemampuan mereka untuk menggunakannya dalam memecahkan masalah, dan rasa percaya diri mereka tehadap matematika dibentuk oleh ajaran yang mereka hadap/terima di sekolah. Guru harus mengetahui dan memahami secara mendalam matematika yang akan kita ajarkan dan mampu memanfaatkan pengetahuan itu dengan fleksibilitas yang tinggi dalam tugas mengajarnya.  Demikian pula, National Research Council (2002) mencatat bahwa guru harus mahir pada tingkat yang lebih banyak daripada siswa kita untuk dapat mengajar matematika dengan baik. Kita tahu dari berbagai penelitian bahwa guru dengan pengetahuan konten yang kuat lebih mampu untuk mengembangkan pemahaman konseptual matematika siswa mereka dengan menyediakan multi representasi dari konsep yang sama. Guru-guru juga lebih mungkin untuk menghubungkan matematika yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari dan untuk konten lainnya.
      Dengan melakukan hal ini dapat menyebabkan prestasi belajar siswa yang lebih tinggi dalam matematika. Kita tidak akan dapat mengajarkan untuk memahami jika kita sendiri tidak memiliki pemahaman yang kuat (Burns, 2007). Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk dapat meningkatkan pengetahuan subyek-materi dan dengan melakukannya akan membuat kita lebih terampil dan meningkatkan rasa percaya diri kita. Pendidik telah menekankan betapa pentingnya bagi kita untuk mempelajari masalah pelajaran sebelum kita membelajarkannya kepada siswa, karena dengan bekerja melalui les, anak akan mengambil peran pelajar, kita sebagai guru memperdalam pemahaman tentang matematika, dan kita mempelajari yang pertama apa yang akan dilakukan oleh siswa. (Brodesky, Gross, Mc Tigue, dan Tierney, 2004). Sama halnya guru mengidentifikasi tujuan matematika dari setiap pembelajaran dan apa yang paling penting bagi semua siswa untuk belajar. Ini dilakukan untuk menghindari mengajar dengan cara-cara yang tidak memenuhi tujuan-tujuan atau bahkan konflik dengan mereka. Dan proses ini juga mensyaratkan bahwa guru memahami isi matematika secara mendalam.

2. Apa karakteristik perkembangan siswa kita?
Sebelum merencanakan pelajaran matematika, kita harus meninjau karakteristik perkembangan umum anak-anak di kelas kita, serta kekuatan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik tiap individu. Memahami karakterisrik siswa kita, terutama tingkat perkembangan, dapat membantu kita merencanakan pelajaran yang sesuai untuk semua siswa.
Dalam bab 2 kita membahas beberapa kemampuan kognitif, faktor-faktor fisik, dan karakteristik sosial perkembangan siswa di sekolah dasar. Ini secara keseluruhan memberikan awal yang baik ketika kita mulai merencanakan matematika melalui pengalaman-pengalaman bagi siswa kita. Perlu diingat tidak semua siswa mengalami kemajuan dan tahap perkembangan pada waktu yang sama. Tingkat kemajuan dan tahap perkembangan yang berbeda mempengaruhi perbedaan kesiapan belajar bagi anak-anak.
Kita juga harus fokus pada kekuatan dan kelemahan siswa kita. Ini akan menuntun kita ke cara menggunakan kekuatan siswa serta mengkompensasi kelemahan mereka. Ini juga akan membantu kita mengidentifikasi bagian-bagian dari pelajaran yang dapat memberikan siswa masalah dan memikirkan cara-cara untuk membuat bagian-bagian lebih mudah diakses. Misalnya seorang siswa yang memiliki kesulitan fokus tetapi suka berbicara dan membaca mungkin dapat dipasangkan dengan seorang siswa yang berfokus baik tetapi kesulitan membaca. Mengingat pengalaman sosial dan budaya siswa kita, ketika merencanakan pembelajaran agar pembelajaran lebih nyata dan bermakna. Anak-anak mungkin merasa lebih mudah untuk belajar dan menjadi lebih termotivasi untuk belajar jika mereka dapat melihat hubungan dengan kehidupan mereka. 
Gaya belajar siswa dan preferensi juga merupakan cerminan dari pengalaman sosial dan budaya mereka. Jadi jika kita dapat menyadari dan mengajar dengan hal-hal ini dalam pikiran, pelajaran akan lebih mungkin untuk berhasil.

3. Apa yang sudah diketahui siswa kita?
Sebagai guru, kita harus mengidentifikasi dan membangun apa yang siswa ketahui. Waktu pembelajaran sangat berharga, tidak akan terbuang pada pelajaran yang terlalu mudah atau terlalu sulit bagi siswa kita. Tentu saja, jika siswa di kelas kita berada pada tingkat akademis yang berbeda atau jika mereka memiliki masalah atau kesulitan belajar, memberikan perlakuan yang adil dapat berarti penyesuaian pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan khusus mereka.
Untuk memenuhi kebutuhan semua anak di kelas kita, kita harus lebih dulu menilai mereka. Tes kertas dan pensil adalah alat yang berguna dalam pengkajian terutama jika kita telah melihat nilai akhir dan menganalisis bagaimana anak-anak mencapai jawaban mereka. Juga kita dapat belajar banyak tentang siswa kita dengan mengamati dan mengadakan percakapan dengan mereka. Hal ini dapat mengungkapkan banyak hal yang tidak dapat diketahui melalui tes tulis. Kita harus menggunakan hasil asesmen/ penilaian untuk membantu memilih bahan pembelajaran dan pendekatan, menyesuaikan bahan, dan memutuskan apa yang perlu diajarkan kepada individu dan kelas secara keseluruhan.
Setelah menilai siswa, kita harus mengatur matematika sehingga kita mengajar dengan cara yang tepat dan dapat dipahami oleh siswa-siswa kita. Matematika meliputi pengetahuan konseptual dan prosedural, dengan demikian kita menghadapi dua (2) tantangan:
a.    Membantu siswa mengembangkan kedua jenis pengetahuan itu.
b.   Membantu siswa memahami hubungan antar mereka.
Dalam tidak ada disiplin lain adalah pengetahuan sebelumnya lebih kritis atau prasyarat, misalnya tidak ada gunanya meminta siswa untuk memperkirakan jarak 1 kilometer (km) jika mereka tidak memiliki pengetahuan tentang seberapa panjang 1 kilometer. Pentingnya pengetahuan anak sebelumnya jelas bahwa program matematika terorganisir, baik untuk memberikan pengetahuan berkelanjutan dan untuk membantu siswa memahami struktur dasar matematika.
       Deskripsi kami hanya memberikan pendekatan spiral walaupun pada kenyataannya agak berbeda. Secara teori kurikulum matematika memberikan perubahan yang berkelanjutan dan pengembangan, tetapi dalam prakteknya banyak teori yang ditinjau kembali tanpa perubahan yang berarti dalam tingkat perbaikan dari satu tahun ke tahun berikutnya. Akibatnya banyak waktu yang berharga mungkin terbuang begitu saja hanya untuk meninjau topik daripada mengenalkan topik baru. Tentu saja, sejumlah review mungkin diperlukan karena alasan-alasan tersebut.
       Tapi Trends in Mathematics and Science Study International (TIMSS) melaporkan bahwa program matematika di Amerika Serikat mencerminkan ulasan lain tentang topik dari tahun ke tahun dibandingkan program matematika di negara-negara lain seperti Jerman dan Jepang (TIMSS, 1996). Pengulangan yang tidak perlu ternyata merugikan siswa. Ini merampas kegembiraan yang melekat pada guru dan siswa untuk mengeksplorasi topik baru. Hal ini juga akan menggunakan waktu yang seharusnya dapat tersedia untuk belajar yang baru, yang berarti bahwa mendapatkan pengalaman ide-ide baru yang lebih sedikit pada setiap akhir tahun.
       Pendekatan spiral memiliki implikasi yang besar untuk belajar dan mengajar. Sebagai contoh, ketika merencanakan les untuk anak kita harus mempertimbangkan prasyarat apa yang harus siswa miliki agar berhasil dalam pembelajaran, dan kita harus mengecek/ memeriksa apakah itu telah dimiliki oleh siswa. Sering kali kita menemukan siswa yang tidak pernah belajar, lupa belajar, atau hanya lupa prasyarat tersebut. Mendeteksi kelemahan ini di awal secara lebih cepat akan memberikan petunjuk kepada kita untuk merencanakan secara tepat jumlah yang akan direview, sehingga kita dapat mempersiapkan pelajaran untuk siswa tanpa membuang-buang waktu.
       Di kelas 3 menggambarkan cara siswa memperoleh informasi tentang pemahaman nilai tempat. Pada awal kelas 2, siswa mungkin dapat membaca dua dan tiga digit nomor, tetapi setelah setahun berlangsung pemahaman mereka tentang nilai tempat akan tumbuh dan mereka akan mendapatkan kemampuan untuk menjelaskan angka. Menyimpan catatan perkembangan mereka adalah penting dalam rangka untuk mengidentifikasi kesenjangan atau kesalahpahaman.
       Selain mengetahui apa yang telah siswa pelajari di kelas sebelumnya, guru harus melihat ke depan apa yang perlu siswa ketahui besok, bulan depan, dan tahun depan. Guru kelas 3 harus tahu apa yang yang telah siswa pelajari di TK, kelas 1, kelas 2, serta apa yang siswa harus pelajari di kelas 4 dan seterusnya. Perspektif yang luas ini membantu guru menghargai pentingnya peran mereka. Hal ini juga membantu mereka mendeteksi kesenjangan dalam belajar matematika, sehingga mereka dapat mengisi kesenjangan secepat dan sefektif mungkin.

4. Apa jenis tugas yang akan saya berikan kepada siswa saya?
Apa saja jenis tugas bagi siswa kita? Ini adalah pertanyaan kunci lain yang harus dijawab sebelum mulai menyusun perencanaan pembelajaran. Tugas yang diberikan mungkin berupa proyek, pertanyaan, masalah, konstruksi, aplikasi (NCTM, 1991, halaman 20). Tugas harus mendorong siswa mengungkapkan alasan ide-ide matematika, untuk membuat koneksi, merumuskan masalah, dan memecahkan masalah.
Tidak ada keputusan lain yang membuat guru mendapatkan dampak yang lebih besar pada kesempatan siswa untuk belajar dan persepsi mereka tentang apa matematika adalah dari pemilihan atau penyusunan tugas oleh guru yang melibatkan siswa dalam mempelajari matematika. Di sini guru adalah arsitek kurikulum (Lappan, 1993, halaman 524)
Salah satu prioritas utama kita, ketika kita mulai merencanakan pembelajaran adalah memutuskan tujuan setiap pembelajaran matematika. Tentu saja, kita dapat meningkatkan pembelajaran dan membuat pembelajaran lebih menyenangkan bagi siswa dengan menggunakan sastra anak-anak sebagai batu loncatan dengan melibatkan siswa dalam kerja eksplorasi dan dengan menetapkan masalah dalam konteks dunia nyata. Tapi pertanyaan pertama ketika kita merencanakan pelajaran matematika tambahan untuk anak, apa yang anak-anak butuhkan dari belajar ini? Hal ini tidak tepat untuk menggunakan bahan manipulatif seperti mainan, untuk melibatkan para siswa dalam berbicara dan menulis, hanya sekitar perasaan mereka dan bukan tentang matematika, atau untuk melaksanakan pembelajaran yang hanya untuk menyenangkan saja.
Sebagai guru kita bertanggung jawab dan memegang peran untuk membantu anak-anak memenuhi standar bagian dan kita dapat melakukan ini hanya untuk pelajaran matematika, melibatkan siswa dengan tugas-tugas yang memperkaya secara matematis. Ketika anak-anak benar-benar terlibat dalam memecahkan masalah-masalah matematika yang masuk akal bagi mereka, mereka akan mengambil dari pengalaman yang mungkin akan menjadi mendalam dan abadi.



5. Perlu memberikan praktek
      Bagian dari memutuskan tentang tugas-tugas yang sepatutnya sedang mempertimbangkan bagaimana memberikan latihan yang diperlukan. Jelas, siswa perlu latihan dalam rangka memperoleh kefasihan dengan ide atau prosedur matematika. Sama seperti kita harus berlatih berjalan atau mengendarai mobil, kita harus berlatih fakta-fakta tambahan dasar atau bagaimana membuat pola. Selain itu drill dan praktek tidak harus menggunakan waktu sebanyak pekerjaan yang membantu anak-anak untuk memahami ide atau prosedur. Setiap kali lebih difokuskan pada memperkuat pemahaman konseptual daripada menggunakan waktu yang lama untuk hafalan prosedur. Akhirnya praktek harus membantu anak-anak menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks baru.

6. Bagaimana mendorong siswa untuk bertanya dan mengelompokkan siswa saya?
      Kita dapat membantu siswa belajar matematika lebih baik dengan mendorong pada kemampuan mereka untuk mengkomunikasikan fikiran mereka kepada kita dan satu sama lain. Dengan meminta mereka untuk mengajukan pertanyaan yang tepat pada waktu yang tepat, dan mengelompokkan siswa menggunakan cara-cara yang sesuai dengan kekuatan dan kebutuhan mereka beserta matematika yang kita ajarkan. Tanya jawab untuk memastikan bahwa diskusi kelas membantu siswa memahami matematika yang kita ajarkan.
       Setelah beberapa percobaan, kita menyadari bahwa untuk memulai pertanyaan dengan ”bagaimana”, ”Apa”, atau ”mengapa” yang diperlukan oleh siswa untuk dapat merespon lebih dari sekedar ”ya” atau ”tidak”.  Sering menggunakan strategi think pair share juga mendorong diskusi dengan memungkinkan waktu bagi siswa untuk membentuk pikiran-pikiran mereka dan membantu siswa yang pemalu menjadi lebih percaya diri dalam merespon di depan kelas. Panjang dan kedalaman respon siswa secara bertahap akan meningkat. Munculnya ide tidak hanya dari guru kepada siswa tetapi juga dari siswa untuk guru dan dari siswa kepada siswa yang lain untuk membantu siswa yang lain belajar matematika (NTCM, 1991). Berikut adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk membantu menciptakan diskusi kelas yang efektif bagi kita dan juga siswa-siswa yang lain. Selain itu model/cara ini dimana siswa dapat bertanya dan menjawab dengan teman-teman mereka, dan menunjukkan kepada mereka bahwa kita mengharapkan mereka untuk melakukan seperti ini.
a.    Pastikan pembelajaran matematika kelas kita adalah tempat yang aman bagi siswa untuk menjawab dan jika membuat kesalahan. Siswa sering banyak belajar dengan mendengarkan orang lain dan menganalisis kesalahannya. Pastikan untuk memberikan peluang kepada siswa untuk mengubah pikiran mereka tentang dugaan dan solusi yang mungkin.
b.    Pose masalah dan menetapkan tugas yang mendorong anak-anak untuk berbicara tentang pemikiran matematika serta mendengarkan dan menanggapi ide-ide siswa yang lain. Interaksi antar anak-anak member kesempatan mereka untuk berbicara tentang ide mereka, mendapatkan umpan balik, dan melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Siswa dapat belajar satu sama lain selain dari guru.
c.    Secara eksplisit mengajarkan kosa kata matematika (Rubenstein, 2007) menyatakan bahwa beberapa kosa kata matematika mungkin membingungkan bagi siswa. Misalnya, kata-kata seperti bundar atau persegi memiliki beberapa arti dalam matematika. Kata-kata seperti produk dan refleksi memiliki arti dalam matematika dibandingkan dengan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Belajar untuk memahami dan menggunakan terminologi yang benar akan meningkatkan kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan ide-ide matematika yang efektif. Hal ini penting untuk mengembangkan konsep atau ide matematika sebelum memperkenalkan kosa kata. Kemudian siswa sudah memiliki pengetahuan dan fokusnya adalah pada berkomunikasi secara efektif (Burns, 2007). Perhatikanlah bagaimana seorang guru dalam menyusun rencana pembelajaran untuk membantu anak-anak membuat hubungan yang bermakna dan menemukan cara untuk mengingat istilah penting.
      Mempertanyakan pertanyaan yang baik adalah penting dalam memfasilitasi pembelajaran. Pertanyaan yang ditujukan untuk mengetahui fakta pengetahuan anak-anak atau kemampuan mereka untuk melakukan keterampilan adalah tingkat yang relatif rendah dan paling mudah untuk dilaksanakan selama pembelajaran. Pertanyaan tingkat tinggi memerlukan kemampuan anak-anak untuk menganalisis atau mensitesis informasi, seperti ketika kita meminta siswa untuk menjelaskan prosedur pekerjaan atau bagaimana mereka mendapatkan jawaban yang benar. Penelitian telah menunjukkan bahwa dalam pelajaran matematika, guru cenderung menggunakan pertanyaan dari jenis pertama jauh lebih sering daripada tipe kedua.
      Kemampuan anak untuk menjawab lebih rendah mungkin berkaitan dengan pemberian nilai tinggi pada tes prestasi, tetapi dengan pertanyaan yang sederhana dan hanya ada satu jawaban yang benar. Jadi rencana pembelajaran yang dibuat guru yang memuat pertanyaan tingkat tinggi yang mendorong anak-anak bereksplorasi lebih banyak tentang pengetahuan prosedur matematika dan bagaimana matematika dapat diterapkan dalam situasi kehidupan nyata.
      Untuk dapat menjadi guru seperti ini, kita perlu mempertimbangkan jenis pertanyaan yang akan ditanyakan dan menulisnya dalam rencana pembelajaran yang kita susun. Cobalah untuk mempersiapkan berbagai pertanyaan, tetapi fokus pada pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan anak-anak untuk berfikir daripada hanya menyediakan fakta dari memori atau melakukan prosedur yang telah dipelajari. Jika kita bertanya dengan pertanyaan tingkat rendah, siswa akan berpendapat bahwa tujuan utama dalam matematika adalah untuk menghafal fakta bukan untuk memahami ide-ide matematika. Ingat, bagaimanapun untuk dapat menyusun pertanyaan tingkat tinggi guru harus mengembangkan pertanyaan-pertanyaan itu sebelum pelajaran dimulai.
     The NTCM, 1991 lima kategori pertanyaan guru dengan tingkat yang lebih tinggi:
1.    Pertanyaan yang membantu siswa untuk bekerjasama dan mencintai matematika.
2.    Pertanyaan yang membantu siswa untuk dapat lebih percaya pada kemampuannya sendiri dan kebenaran jawabannya.
3.    Pertanyaan yang membantu siswa untuk belajar memberi alasan secara matematika.
4.    Pertanyaan yang membantu siswa belajar memprediksi, menemukan dan memecahkan masalah.
5.    Pertanyaan yang membantu siswa meningkatkan komunikasi matematika dan aplikasinya.
Pengelompokkan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan komunikasi siswa dengan menggunakan berbagai pola pengelompokkan. Ada 3 pola dasar pengelompokkan untuk pembelajaran matematika:
1.    Seluruh kelas dengan bimbingan guru.
2.    Kelompok kecil, baik dengan bimbingan guru atau dipimpin oleh seorang siswa.
3.    Individu bekerja secara indevenden.
Yang harus diingat bahwa kerja kelompok kecil dapat membantu anak-anak mengembangkan kemampuan penalaran, melalui keterlibatan aktif dan memastikan bahwa anak-anak bekerja pada konten khusus pembelajaran.
     Berikut ini adalah panduan untuk membantu kita (guru) memutuskan bilamana harus menggunakan pola pengelompokkan tertentu.
1.    Pembelajaran dengan menggunakan pengelompokkan besar:
a.       Jika topik dapat disajikan kepada semua siswa di suatu tempat dalam waktu yang sama (jika semua siswa telah memiliki kemampuan prasyarat).
b.      Jika siswa membutuhkan bimbingan terus-menerus atau pemodelan dari guru untuk menguasai topik.
2.    Pembelajaran menggunakan kelompok kecil:
a.       Jika siswa kurang mendapatkan bimbingan dari guru
b.      Jika guru mencoba untuk mendorong eksplorasi dan komunikasi tentang matematika.
c.       Jika guru mencoba untuk membantu siswa untuk mendapatkan keterampilan dari pembelajaran kooperatif.
3.    Pembelajaran menggunakan individu:
a.       Jika siswa dapat melakukan kegiatan mandiri
b.      Jika fokusnya adalah praktek individu untuk mendapatkan penguasaan.
      Kebanyakan guru yang efektif menggunakan kombinasi pengelompokan pola. Sebagai contoh, seorang guru mungkin mengembangkan materi baru dengan seluruh kelas, dan kemudian menunjuk anak-anak secara individu atau dalam kelompok-kelompok kecil untuk satu atau lebih kegiatan dirancang untuk membantu mereka untuk mengkonsolidasikan pembelajaran baru. Komunikasi satu dengan yang lain sangat membantu guru matematika. Guru bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain dengan memberikan bantuan pemikiran yang diperlukan. Seluruh kelas kemudian diajak bersama-sama lagi untuk berdiskusi, guru sebagai mediasi sehingga anak-anak dapat mendengar ide-ide dari siswa dalam kelompok lain. Pada akhir diskusi guru memberikan penutupan pelajaran. Metode ini mengintegrasikan pengelompokan seluruh kelas dan kelompok kecil terbukti lebih efektif daripada pembelajaran seluruh siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi.
     Kita akan perlu mengajarkan keterampilan siswa dalam komunikasi, membangun kelompok, sosialisasi kelompok kecil dan membantu sehingga mereka dapat saling mengisi satu sama lain sebagai sumber daya untuk pembelajaran matematika. Sebelum kita menempatkan anak-anak dalam kelompok, kita harus berhati-hati dalam mempertimbangkan kemampuan dan kepribadian mereka masing-masing. Dengan menempatkan siswa berkemampuan rendah, sedang dan tinggi dalam kelompok yang terpisah-pisah akan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Penelitian telah menemukan bahwa homogen (kemampuan yang sama) dalam kelompok tidak akan membantu meningkatkan prestasi siswa secara keseluruhan dan menjadikannya ketidakadilan. Bahkan kelompok siswa dengan kemampuan rendah akan tampil buruk ketika ditempatkan kelompok yang homogen, dibandingkan dengan mereka jika ditempatkan dalam kelompok yang hiterogen (kemampuan campuran).
     Pembelajaran kelompok kecil mungkin memerlukan lebih banyak perencanaan dan waktu daripada pembelajaran seluruh kelas. Tetapi ini sebanding dengan hasil positif dalam komunikasi, dukungan sosial untuk belajar matematika, kesempatan semua siswa untuk mencapai kesuksesan dalam matematika. Ini meningkatkan kemungkinan bahwa anak-anak akan melihat lebih dari suatu pendekatan untuk memecahkan masalah dan peluang untuk menangani masalah matematika melalui diskusi yang bermakna.

7. Apa bahan yang akan kita pilih dan bagaimana menggunakannya?
      Perencanaan dalam pembelajaran juga melibatkan memilih bahan-bahan untuk meningkatkan atau mendukung teks kurikulum. Guru memiliki kebebasan ketika memilih bahan untuk mendukung tujuan pembelajaran mereka. Beberapa dapat dimulai dari buku teks, dan melengkapinya bagi mereka yang kreatif, mencari cara untuk menyesuaikan dengan buku pelajaran peserta didik dalam kelas mereka. Apapun bahan kurikukum yang kita gunakan, kadang-kadang kita perlu untuk mencari sumber daya tambahan. Bebagai buku dari penerbit dan internet memberikan banyak pilihan dan kita juga mempertimbangkan sumber daya lainnya seperti bahan manipulatif dan teknologi.
     Berapa banyak guru yang bergantung pada buku tek pelajaran dalam menyusun perencanaan pembelajaran? Sejauh mana kita dapat menggunakan buku pelajaran, tergantung kemampuan guru untuk menyesuaikannya. Jangan sampai hanya tergantung dengan buku tek apa adanya yang sebagaimana yang telah disediakan oleh pemerintah.
     Jika kita menentukan bahwa pembelajaran yang sesuai dengan tahapan perkembangan  untuk siswa kita, perlu melibatkan siswa dalam pemecahan masalah, maka beradaptasi nampaknya diperlukan. Panduan guru untuk buku teks dapat memberikan guru berbagai ide untuk menyampaikan pelajaran menggunakan buku teks. Panduan juga sering memberikan saran/petunjuk untuk tindak lanjut kegiatan seperti karya tulis dan permainan. Dan banyak panduan yang menawarkan saran untuk perbaikan, pengayaan dan tugas alternatif bagi anak-anak dengan ketidakmampuan belajar dan kebutuhan khusus lainnya.
     Konteks untuk pelajaran dapat diambil dari suatu situasi kehidupan nyata atau dapat dikembangkan dari perpaduan tema terkait dengan pelajaran lain seperti Ilmu Pengetahuan Sosial atau sastra anak-anak. Kita dapat menggunakan konteks untuk meningkatkan pembelajaran matematika. Pastikan kita memberikan tugas kepada siswa dengan tugas terbuka yang memungkinkan siswa untuk mengambil beberapa cara/solusi. Hal ini memungkinkan siswa yang berbeda untuk berpastisipasi dan belajar di mana mereka berada.
     Kita juga mungkin perlu untuk melengkapi pembelajaran dengan meningkatkan fokus pada pemecahan masalah dan pengembangan konseptual. Misalnya jika teks tidak menyediakan cukup pengalaman yang bermakna, maka perlu praktek dengan manipulatif untuk siswa di kelas kita. Kita mungkin perlu mencari cara lain untuk memberikan pengalaman dan praktek tersebut. Pada akhirnya kita sebagai guru harus lebih mengetahui kebutuhan siswa kita. Sediakan beberapa buku sumber untuk membantu kita mengajar matematika bagi siswa kita.
     Pada kenyataannya guru merasa lebih sulit untuk mengajar matematika sesuai dengan cara yang tertera dalam standar. Seringkali guru mengubah pendekatan secara signifikan dalam pembelajaran. Pada awalnya guru sudah menghabiskan banyak waktu mempersiapkan dan menyusun perencanaan pembelajaran. Kadang-kadang guru berusaha memberikan tambahan yang agak berbeda dengan buku teks pelajaran tanpa menghilangkan komponen  program yang penting.
     Jika kita menggunakan buku teks sesuai kurikulum, kita harus berhati-hati untuk memasukkan wacana kelas, yang memungkinkan siswa untuk mempelajari konsep-konsep matematika melalui pemecahan masalah, dan menerapkan matematika dalam situasi nyata (Sutton dan Krueger, 2002).
     Guru juga harus menyadari bahwa cara-cara baru dalam mengajar dan pembelajaran  matematika tidak hanya menantang bagi guru, tetapi juga kadang-kadang membingungkan bagi orang tua. Jadi penting juga untuk menjalin komunikasi dengan orang tua, dengan mengundang orang tua ke sekolah. Kemudian dijelaskan dasar pemikiran untuk metode pembelajaran yang baru. Selain itu guru menyarankan orang tua untuk membantu anak-anak mereka di rumah.
     Guru dapat menggunakan buku literatur anak-anak yang diperdagangkan untuk meningkatkan pembelajaran, dalam seni-bahasa, ilmu sosial, ilmu pengetahuan, musik, drama, dan sastra untuk mendukung pembelajaran matematika. Buku anak-anak dapat memacu imajinasi siswa dengan cara mengerjakan latihan dalam buku teks atau buku kerja siswa (Burns, 2007 p.45). Cerita dapat memberikan kepada anak-anak sebagai titik awal untuk berbagi dan mendiskusikan ide-ide matematika. Matematika dan keterampilan berbahasa berkaitan erat dalam mengembangkan kemampuan anak berbicara, menulis, dan membaca tentang ide-ide matematika.
     Penggunaan sastra anak dalam pelajaran matematika dapat meningkatkan belajar dalam banyak hal, karena sastra anak:
a.    Menyediakan konteks atau alur cerita yang dapat meluncurkan atau mengembangkan konsep-konsep matematika.
b.    Menyediakan ilustrasi yang jelas mewakili konsep-konsep matematika.
c.    Menyediakan kualitas ilustrasi yang memotivasi untuk pembaca.
d.   Sumber masalah sebagai dasar untuk membangkitkan penyelesaian masalah.
e.    Menyediakan gaya dan bentuk yang dapat memotivasi kelas untuk menulis masalah atau merancang buku lain bagi guru (Thiessen, 2004).
Banyak buku referensi yang dapat membantu guru mengidentifikasi cerita yang bekerja dengan baik mengintegrasikan sastra anak-anak dengan pelajaran matematika pada topik tertentu.
Manipulatif dari guru yang efektif ketika dengan tepat memberikan pengalaman konkret yang membantu anak-anak memahami matematika dan membangun cara berfikir matematika bagi siswa. Penggunaan manipulative juga merupakan cara yang efektif untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa kita yang beragam. Manipulatif membebaskan guru untuk menggambarkan ide-ide matematika dalam berbagai cara menggunakan berbagai model yang yang berbeda dan representasi. Pemecahan masalah matematika dengan dukungan manipulatif dapat meningkatkan keterlibatan aktif anak-anak. Sepanjang waktu yang dihabiskan oleh anak-anak untuk bahan manipulatif berarti selama itu pula anak-anak mengkonstruksi pengetahuan dan membuat hubungan antara model dan ide-ide matematika.
Dalam buku itu ditekankan pentingnya anak-anak menggunakan manipulatif untuk model-model matematika. Bahan yang biasa digunakan di sekolah dasar termasuk chip atau ubin, saling kubus, pola balok, atribut blok, tangram, sepuluh blok, model fraksi, pemintal dan dadu, dan bermain uang. Sementara orang tua dan guru mungkin khawatir bahwa, anak-anak akan terlalu bergantung pada manipulatif. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak akan maju dari acak menebak menggunakan alat-alat seperti manipulatif, menggunakan strategi mereka sendiri. Selain itu juga menyarankan bahwa anak-anak juga membutuhkan kesempatan untuk mengeksplorasi alat dan strategi yang berbeda dan mendiskusikan bagaimana dan mengapa itu berguna (Jacobs dan Kusiak, 2006). Robert (2007) mengingatkan kita bahwa siswa memiliki dan menggunakan model manipulatif tidak menjamin mereka akan mampu membangun pemahaman matematika yang diinginkan. Guru harus menyusun perencanaan dan pemberian tugas secara berhati-hati dan mendorong refleksi secara bijaksana kepada siswa.
Diterapkannya teknologi secara efektif memiliki potensi untuk meningkatkan belajar siswa, pemahaman, prestasi dan motivasi. Siswa menggunakan teknologi juga dapat belajar kolaborasi, berfikir kritis, dan pemecahan masalah (Pitler, Hubbel, Kuhn, dan Malenoski, 2007). Komputer telah menjadi alat yang penting pada sebagian besar masyarakat dan merupakan salah satu bentuk yang paling umum dari teknologi yang digunakan di ruang kelas SD. Banyak siswa saat ini telah memiliki akses ke desktop, laptop, dan komputer genggam.
Penelitian menunjukkan bahwa, bahkan anak-anak pra sekolah dapat menggunakan komputer terutama dari program-program yang open ended, mendorong membahas dan memecahkan masalah, dan mendukung pengembangan pengetahuan konseptual. Sayangnya, banyak guru tidak yakin bagaimana menggunakan komputer untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan, dan sering memilih untuk menggunakan tingkat yang lebih rendah.
Pada dasarnya ada 6 jenis perangkat lunak komputer yang tersedia. Siswa menggunakan setiap jenis dengan cara yang sedikit berbeda, dan berbagai jenisjuga menawarkan manfaat yang berbeda untuk anak-anak.  Satu pendidik menggambarkan setiap jenis perangkat lunak dalam hal yang potensial untuk mengembangkan pemecahan masalah dan kemampuan berfikir tingkat tinggi (Crown, 2003):
a.    Sofware drill dan praktek memberikan latihan untuk keterampilan yang sebelumnya telah diajarkan. Beberapa program drill dan praktek menyimpan catatan dan memberikan skor, atau bahkan dapat menyesuaikan tingkat kesulitan dengan respon siswa (misalnya jumlah dan jenis kesalahannya.
b.    Perangkat lunak tutorial memberikan perintah pada keterampilan baru. Ini dapat memperkenalkan informasi, contoh dan memberikan latihan. Selain itu software ini dapat mendorong siswa untuk fokus pada prosedur atau aturan awal sebelum mereka disuguhi dengan pengetahuan konseptual dari suatu topik.
c.    Simulasi perangkat lunak memungkinkan siswa untuk mengalami peristiwa dan mengeksplorasi lingkungan yang mungkin terlalu mahal, berantakan, berbahaya, atau memerlukan waktu untuk mengalami dan mengeksplorasi dalam kenyataan dalam kelas. Sebagai contoh melalui simulasi komputer siswa dapat menjalankan bisnis atau pergi pada ekspedisi atau dapat melakukan percobaan probabilitas.
d.   Sofware game pendidikan dalam menangani kegiatan pendidikan yang menyenangkan keterampilan tertentu atau mungkin bantuan dalam pengembangan pemikiran logis atau problem solving keterampilan. Selain itu game ini dapat membantu anak meningkatkan kemampuan berfikir tingkat tinggi dengan menganalisa permainan dan situasi yang berkembang.
e.    Perangkat lunak pemecahan masalah dirancang untuk membantu dalam pengembangan strategi pemecahan masalah tingkat tinggi. Program pemecahan masalah yang mirip dengan simulasi program di mana siswa ditempatkan dalam situasi di mana mereka dapat memanipulasi variabel-variabel dan menerima umpan balik, tetapi program pemecahan masalah belum tentu memodelkan situasi yang nyata.
Perangkat lunak dapat kedua pengajaran dan pembelajaran dan mungkin tipe yang paling efektif perangkat lunak untuk mengembangkan matematika melalui pemecahan masalah. Alat membantu efisien dan mudah dengan grafik menvisualisasikan dan komputasi. Alat yang berguna sebagai perangkat lunak pengolah kata, data base, program grafik, hypermedia, software geometri dinamis, dan aplplet (versi elektronik dari manipulative juga disebut manipulatif virtual).
      Saat ini banyak program perangkat lunak dari jenis tersebut di atas tersedia di internet yang memberikan kebebasan guru dan siswa mengakses sumber daya yang sebelumnya belum pernah dimiliki.
      Kalkulator adalah alat berteknologi lain yang penting dalam pembelajaran matematika. Kalkulator harus tersedia pada waktu yang tepat sebagai alat komputasi, terutama ketika penghitungan banyak dan rumit yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Namun ketika para guru bekerja dengan siswa pada mengembangkan algoritma komputasi, kalkulator harus disisihkan untuk memungkinkan fokus ini. Saat ini kalkulator adalah umum digunakan alat komputasi luar kelas, dan lingkungan dalam kelas mencerminkan kenyataan ini.
      Kalkulator tidak hanya membiarkan siswa menghitung cepat dan akurat, tetapi juga mengharuskan mereka memeriksa pola, memecahkan masalah, mengembangkan konsep-konsep matematika, dan melakukan tugas-tugas tingkat tinggi lainnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan kalkulator dalam cara telah berprestasi tinggi daripada siswa yang hanya menggunakan kertas dan pensil. Mereka lebih baik di perhitungan mental dan memiliki sikap yang lebih baik terhadap matematika dan melakukannya tidak bergantung pada kalkulator. (akan dibahas pada bab 10).
       Saat ini semakin banyak siswa di sekolah yang memiliki akses teknologi yang melampaui kalkulator, dan komputer dekstop, termasuk komputer genggam, atau perangkat pengumpulan data, jaringan kelas, papan tulis interaktif, kamera digital, kamera video, sistem laboratorium berbasis kalkulator dan CD, video, MP3, dan DVD. Sebagai guru kita tidak hanya nyaman menggunakan teknologi ini, tetapi juga harus mempertimbangkan bagaimana itu dapat kita integrasikan ke dalam pembelajaran amtematika. Jangan membawa teknologi sederhana untuk memotivasi atau mengesankan siswa kita. Ingat bahwa teknologi akan meningkatkan prestasi belajar siswa jika digunakan untuk mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi yang terlibat dalam mengumpulkan dan menganalisis data, menyelidiki pola dan memecahkan masalah.
       Akhirnya guru harus memastikan akses yang baik terhadap teknologi. Pastikan untuk menggunakan teknologi pada saat merencanakan pembelajaran bagi semua siswa. Jika tidak ada teknologi yang cukup tersedia untuk semua yang akan digunakan pada kesempatan yang sama, usahakan menggunakannya secara teratur.

PERENCANAAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF
     Perencanaan merupakan kegiatan yang penting untuk dapat mengajar yang   baik. Anak-anak dapat belajar dengan baik, apabila direncanakan dengan terorganisir disertai dengan pertanyaan yang bijaksana, diperkaya oleh kegiatan dan bahan-bahan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide tentang matematika. Perlu kehati-hatian dari guru dalam mengembangkan pertanyaan, penjelasan, penggunaan teknologi dan manipulatif, penting untuk membantu anak-anak belajar matematika.
     Guru merencanakan pembelajaran dengan berbagai cara. Beberapa hanya daftar tujuan pembelajaran, dan setidaknya langkah-langkah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Beberapa bahasan untuk materi dan lembar kerja siswa untuk anak-anak. Dan beberapa yang lain menggunakan panduan buku teks, yang semua ini membutuhkan pemikiran guru untuk merencanakan dan memikirkan bagaimana siswa akan melakukannya.
      Beberapa guru yang berpengalaman meluangkan waktu untuk menyusun perencanaan dengan lengkap, rinci untuk setiap pelajaran matematika. Mereka mungkin telah mengajarkan pelajaran yang sama berkali-kali sebelumnya dengan waktu dan pertanyaan yang menjebak.

Pentingnya Perencanaan
      Perencanaan yang baik akan memberikan keamanan bagi guru untuk mengetahui apa yang akan guru katakan dan lakukan, memuat kegiatan yang menarik dan bahan yang siap digunakan oleh anak-anak. RPP yang baik dan rinci memberi arah untuk guru dalam menilai seberapa baik pelajaran yang telah dilakukan. Meskipun guru tidak dapat mengikuti rencana pembelajaran dengan tepat, hal ini akan membantu guru dalam mengevaluasi mengajarnya dan menilai belajar siswa. Rencana pembelajaran juga dapat dibagi kepada guru yang lain supaya dapat memberikan komentar dan saran.

Tingkat Perencanaan
      Perencanaan pembelajaran untuk matematika yang disusun oleh guru terbagi menjadi 3 tingkatan. Dimulai dari rencana tingkatan yang lebih luas yang menetapkan guru pada tujuan dan sasaran untuk tahun ini. Kemudian bergerak turun tingkat, guru merencanakan bagaimana untuk mencapai tujuan dan sasaran dengan menyelenggarakan isi matematika menjadi unit-unit. Akhirnya pada tingkat tersempit, guru merencanakan pelajaran sehari-hari untuk mengajarkan bagian-bagian tertentu. Setiap perencanaan adalah penting dalam memastikan bahwa guru telah memenuhi persyaratan tingkat kelas.



Perencanaan Tahunan
      Sebelum tahun ajaran dimulai guru perlu mempertimbangkan apa yang disampaikan kepada anak-anak selama 1 tahun. Sebagian besar sekolah menyiapkan lingkup materi dan urutannya sesuai dengan panduan kurikulum, atau bergantung pada program yang disediakan di buku yang guru gunakan. Sebelum guru menyusun perencanaan harus memahami ruang lingkup dan urutan sesuai dengan kurikulum.
     Bahan tersebut dirancang untu memastikan bahwa anak-anak menerima isi/bahan sesuai dengan yang dikehendaki pada semua kelas. Guru juga harus memeriksa bahan bersama kepala sekolah dan guru lain untuk menentukan apakah ada perubahan yang telah dibuat untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di sekolah. Dan guru secara fleksibel dapat mengadakan perubahan sesuai dengan kondisinya.
     Guru perlu mempertimbangkan perkiraan waktu yang diperlukan untuk menyampaikan materi sesuai dengan tingkat kedalaman masing-masing. Tujuan untuk tahun ini sesuai dengan buku teks. Panduan kurikulum sekolah dapat membantu guru daalm mengambil keputusan tentang seberapa banyak waktu yang diperlukan untuk mengajarkan setiap topik.

Perencanaan Unit
      Setelah perencanaan tahunan dibuat, guru dapat mulai merencanakan unit. Mulailah dengan menguraikan urutan topik yang akan diajarkan dan dan berapa alokasi waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing. Kemudian memutuskan tambahan bahan, strategi pengajaran, dan penilaian. Selanjutnya untuk menyusun perencanaan mingguan lebih mudah. Walaupun pada
pelaksanaannya tidak dapat sama persis, tapi setidaknya guru dapat meninjau kemajuan anak-anak di kelas dan kemudian mengubah kecepatan konten yang akan diajarkan untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Atau guru dapat merencanakan mengajar yang berbeda konten untuk kelompok kecil atau individu.

Perencanaan Harian
     Setelah unit diuraikan guru siap untuk menyusun perencanaan harian untuk pembelajaran sehari-hari. Rencana pembelajaran yang disusun guru membantu guru dalam menjelaskan ide-ide, yang berfungsi sebagai peta penunjuk jalan saat mengajar dan memberikan catatan yang dapat digunakan untuk setiap pembelajaran untuk menyusun perencanaan pembelajaran berikutnya. Jika kita sebagai guru menyimpang dari rencana, akan diketahui di mana letak penyimpangan itu dan dapat kembali lagi sesuai dengan perencanaan. Rencana harus singkat namun lengkap. Gunakan format yang memungkinkan guru mudah merujuk rencana sementara mengajar.

Perencanaan berbeda dengan pelajaran
      Ketika menyusun rencana pembelajaran sehari-hari, guru juga harus mempertimbangkan format pelajaran. Format yang paling sering digunakan untuk pelajaran matematika mengajar-mengulang-praktek mungkin juga salah satu yang paling efektif terutama jika digunakan untuk memperkenalkan konten baru. Dalam format ini, guru mulai dengan meninjau pelajaran sebelumnya, guru menjelaskan konsep baru atau menunjukkan keterampilan baru dengan menggunakan sampel masalah, akhirnya guru memberikan latihan untuk praktek siswa. Biasanya selama sisa pelajaran siswa berlatih memecahkan masalah sementara guru membantu siswa secara individual. Apapun bentuk/format pembelajaran yang direncanakan guru pastikan untuk diingat tujuan secara menyeluruh dan memastikan pemahaman siswa serta memelihara keterlibatan siswa secara aktif.
      Apapun bentuk/format rencana pembelajaran yang dibuat oleh guru rencana pembelajaran biasanya menunjukkan informasi dasar seperti tujuan pelajaran, bagaimana guru akan menilai siswa, dan apa bahan yang dibutuhkan. Pembelajaran itu sendiri pada umumnya memuat: bagaimana guru memulai pelajaran, menyelidiki atau menjelajahi, dan membawa pembelajaran berakhir.
     Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 65 tahun 2013, tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah, bahwa pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. Dalam kegiatan pendahuluan guru:
a.    Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran.
b.    Memberi motivasi belajar siswa secara kontektual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari.
c.    Mengajukan pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
d.   Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai.
e.    Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
Pada kegiatan inti menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran dan  sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik atau tematik terpadu dan atau saintifik dan atau inkuiry dan penyingkapan (discovery) dan atau pembelajaran yang menghasilkan karya yang berbasis pemecahan masalah disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan.
Dalam kegiatan penutup, guru bersama siswa baik secara individual maupun kelompok melakukan refleksi untuk mengevaluasi:
a.       Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung.
b.      Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
c.       Melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, baik tugas individual maupun kelompok.
d.      Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. (Permendikbud nomor 65 tahun 2013).
      Selanjutnya masih dalam standar proses dinyatakan bahwa RPP disusun berdasarkan KD atau sub tema yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Komponen RPP terdiri atas:
a.    Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan
b.    Identitas mata pelajaran atau tema/sub tema.
c.    Kelas/ semester
d.   Materi pokok
e.    Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai.
f.     Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
g.    Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi.
h.    Materi pembelajaran yang memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan yang ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi.
i.      Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai.
j.      Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran.
k.    Sumber belajar dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lainnya yang relevan.
l.      Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup.
m.  Penilaian hasil pembelajaran (Permendikbud nomor 65 tahun 2013).
Dalam pelajaran investigasi siswa mencoba untuk memecahkan masalah, mempelajari konsep baru atau melakukan penyelidikan sendiri. Masalah atau investigasi mungkin telah disiapkan guru untuk membuat siswa menghasilkan gagasan sendiri melalui penelitian mereka sendiri. Jelas guru bertanggungjawab untuk membimbing pelajaran, tetapi diharapkan siswa dapat melakukan pendekatan dengan strategi dan solusi mereka sendiri.
Selama pada fase meringkas pelajaran siswa dalam satu kelas berbicara tentang temuannya. Guru mengatur diskusi dimana berbagai kelompok atau individu melaporkan percobaan yang telah mereka lakukan dan mereka temukan.

     Pembelajaran instruksi langsung
       Dalam pelajaran instruksi langsung guru memainkan peran yang lebih sentral dalam mengarahkan instruksi daripada pembelajaran investigasi. Pelajaran instruksi langsung sesuai ketika guru ingin berkomunikasi pengetahuan khusus, memperkenalkan kosa kata baru atau mengajar prosedur tertentu.
Eksplorasi
      Kadang-kadang guru ingim memberikan serangkaian kegiatan belajar atau eksplorasi bagi siswa secara bersamaan bekerja secara mandiri atau kelompok kecil untuk semua ruangan kelas. Eksplorasi harus terstruktur sehingga anak-anak dapat menyelesaikannya tanpa bantuan guru. Eksplorasi menuntut guru merencanakan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan gaya belajar yang bervariasi. Beberapa siswa mungkin lebih suka bekerja dengan teknologi sementara beberapa yang lain mungkin ingin menggunakan manipulatif. Guru dapat berencana memenuhi kebutuhan individu dengan kegiatan yang lebih menantang. Mempertimbangkan ukuran kelas dan jumlah anak yang akan bekerja dalam waktu yang sama.
      Sebuah eksplorasi umumnya melibatkan 3 tahap:
a.       Peluncuran.
b.      Mengeksplorasi
c.       Meringkas.

     Pemenuhan kebutuhan siswa
Setelah guru menyusun rencana pelajaran, berarti selangkah lagi guru siap melaksanakan pembelajaran. Pastikan untuk meninjau kebutuhan khusus siswa dan membuat adaptasi sehingga semua siswa dapat memiliki kesempatan untuk mencapai keberhasilan dan tantangan.
Beberapa pendidik percaya bahwa seorang guru harus bertanya tiga (3) pertanyaan ketika merencanakan untuk pembelajaran individu bagi siswa yang membutuhkan bantuan tambahan (Karp dan Howell, 2004):
a.       Apa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dibutuhkan oleh siswa berkebutuhan khusus dalam kegiatan pembelajarannya?
b.      Pada bagian mana siswa mengalami kelemahan?
c.        Bagaimana kita dapat memberikan dukungan pada kelemahan siswa berkebutuhan khusus supaya dapat fokus pada tugas konseptual?
Ulasan penelitian menginformasikan bahwa individu guru dapat memiliki peran yang besar/kuat terhadap prestasi siswanya. Meskipun ada banyak studi penelitian yang dapat membantu untuk mengidentifikasi strategi pembelajaran yang efektif, seperti yang dibahas dalam bab ini,  guru harus memutuskan strategi mana yang digunakan, dengan siswa yang mana, dan kapan harus menggunakannya (Marzano, 2007).
Guru matematika harus memiliki dasar yang efektif tentang yang diajarkan, menyadari karakteristik perkembangan siswa, mempertimbangkan apa yang mereka telah ketahui, berfikir jenis-jenis tugas yang akan diberikan, memberikan latihan yang diperlukan, memanfaatkan momen strategis, mengelompokkan siswa, dan mempertimbangkan jenis bahan yang akan digunakan di kelas, termasuk materi kurikulum, manipulatif dan teknologi bagi anak-anak. Perencanaan membantu memastikan bahwa semua konten penting disertakan, membantu mengendalikan kecepatan pelajaran, membantu dalam mengendalikan perhatian anak, membantu mengurangi pengulangan yang tidak perlu, sambil memastikan review dan praktek yang diperlukan serta membantu guru merasa yakin.
Rencana pembelajaran harus menyatakan tujuan yang jelas, prosedur, alokasi waktu, dan penilaian. Ketika merencanakan guru juga harus mempertimbangkan ekuitas-cara yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan semua siswa, termasuk siswa dari budaya lain, dan mengidentifikasi siswa berkebutuhan khusus.

Abstraksi:
Dari apa yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan:
1.      Sebagai guru perlu mendiskusikan sebelum menyusun perencanaan, mengapa hal itu penting.
2.      Untuk melengkapi bahan ajar matematika dapat diambil dari buku ajar.
3.      Perencanaan pembelajaran yang disusun perlu menyesuaikan dengan kebutuhan khusus siswa tertentu.
4.      Perencanaan penting untuk disusun mulai perencanaan tahunan sampai perencanaan harian.
5.      Guru mempertimbangkan beberapa hal dalam merencanakan pembelajaran sehari-hari.
6.      Guru membedakan tiga jenis perencanaan, dan kapan waktu menggunakannya.
7.      Tuliskan ikhtisar perencanaan pelajaran sebelum diajarkan.
Kenyataan di lapangan:
1.    Guru mengkompilasi ringkasan pemahaman yang berbeda dengan anak-anak.
2.    Buatlah daftar pertanyaan dari siswa.
3.    Carilah sumber lain yang menyarankan penggunaan kelompok kecil.
4.    Aturlah penyesuaian perencanaan terhadap anak yang berkebutuhan   khusus.
5.    Renungkan perencanaan yang berhubungan dengan kepercayaan diri.
6.    Pembelajaran kooperatif dapat mendukung anak-anak dalam pengayaan.
7.    Pilih topik untuk mengajar, dan sumber daya seperti sastra, manipulatif dan teknologi.
8.    Bandingkan cara yang diajarkan teks berbasis standar dan yang lebih tradisional.
9.    Pilih topik konten.
10.     Periksa buku teks dan bahan-bahan tambahan yang dapat  disediakan  untuk menyesuaikan pembelajaran dengan tingkatan siswa.
11.     Pilihlah tambahan sumber yang menjadikan persiapan khusus sehingga pelajaran lebih menarik.
12.     Tulis rencana pembelajaran yang menjelaskan bagaimana guru akan memasukkan satu ide dalam kelas baru.
13.     Guru dapat menemukan sumber daya tambahan untuk melengkapi kegiatan pembelajaran.

      Dalam buku Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar, yang ditulis oleh Heruman, S.Pd, M.Pd, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya Bandung, halaman 2-3, dinyatakan: dalam mengembangkan kreativitas dan kompetensi siswa, maka guru hendaknya dapat menyajikan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan kurikulum dan pola fikir siswa. Dalam mengajarkan matematika guru harus memahami kemampuan siswa yang berbeda-beda, serta tidak semua siswa menyenangi mata pelajaran matematika.
      Konsep-konsep pada kurikulum matematika SD dapat dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu: penanaman konsep dasar (penanaman konsep), pemahaman konsep, dan pembinaan keterampilan. Memang tujuan akhir pembelajaran matematika SD agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah pemaparan pembelajaran yang ditekankan pada konsep-konsep matematika.
1.      Penanaman konsep dasar (penanaman konsep), yaitu pembelajaran suatu konsep baru matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut. Kita dapat mengetahui konsep ini dari kurikulum, yang dicirikan dengan kata “mengenal”. Pembelajaran penanaman konsep dasar merupakan jembatan yang harus dapat menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret dengan konsep baru matematika yang abstrak. Dalam kegiatan pembelajaran konsep dasar ini, media atau alat peraga diharapkan dapat digunakan untuk membantu kemampuan pola fikir siswa.
2.      Pemahaman konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika. Pemahaman konsep terdiri atas dua pengertian: Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dalam satu pertemuan, Kedua, pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan lanjutan dari penanaman konsep. Pada pertemuan tersebut penanaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, di semester atau kelas sebelumnya.
3.      Pembinaan keterampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep dan pemahaman konsep. Pembelajaran pembinaan keterampilan bertujuan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Seperti halnya pada pemahaman konsep, pembinaan keterampilan juga terdiri atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dan pemahaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pembinaan keterampilan dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tapi masih merupakan lanjutan dari penanaman konsep dan pemahaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman dan pemahaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, di semester atau kelas sebelumnya.
Selanjutnya dalam buku berjudul Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, karya Prof. Dr.H. Wina Sanjaya, M. Pd, Penerbit Kencana Prenada Media Group, Jakarta halaman 31-32, dijelaskan: mengapa perencanaan pembelajaran dibutuhkan, disebabkan beberapa hal:
1.    Pembelajaran adalah proses bertujuan. Sesederhana apa pun proses pembelajaran yang dibangun oleh guru, proses tersebut diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Semakin kompleks tujuan yang akan dicapai, maka semakin kompleks pula perencanaan yang harus disusun oleh guru.
2.    Pembelajaran adalah proses kerja sama. Proses pembelajaran minimal melibatkan guru dan siswa. Dalam proses pembelajaran guru dan siswa perlu bekerjasama yang harmonis. Guru perlu merencanakan apa yang harus dilakukan oleh siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, disamping itu guru juga harus merencanakan apa yang sebaiknya diperankan oleh dirinya sebagai pengelola pembelajaran.
3.    Proses pembelajaran adalah proses yang kompleks. Pembelajaran bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi suatu proses pembentukan perilaku siswa. Siswa adalah organisma yang unik, yang sedang berkembang. Siswa bukan benda mati yang dapat diatur begitu saja.
4.    Proses pembelajaran akan lebih efektif apabila memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang tersedia, termasuk memanfaatkan sumber belajar. Proses pembelajaran akan efektif manakala memanfaatkan sarana dan prasarana secara tepat. Untuk itu perlu perencanaan yang matang bagaimana memanfaatkannya untuk keperluan pencapaian tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar