Jumat, 29 Juli 2016

GURU PEMBELAJAR

Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan
anak  yang berusia antara 6- 12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun
menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual /
kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka memandang  dunia dalam
keseluruhan yang utuh atau holistik. Mereka juga belum memahami konsep yang
abstrak, yang  mereka pedulikan adalah hal yang kongkrit. Padahal bahan materi IPS
penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti manusia,
lingkungan, waktu, perubahan, kesinambungan, keragamanan sosial, ekonomi,
budaya adalah konsep-konsep abstrak  yang dalam program studi  IPS dibelajarkan
kepada peserta  didik SD.
Pembelajaran IPS SD akan dimulai dengan pengenalan diri,  keluarga, tetangga,
lingkungan Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Kelurahan / desa,
Kecamatan, Kota/ Kabupaten, Propinsi, Negara-negara tetangga, kemudian dunia.
Mulai  dari lingkungan terdekatnya,  anak-anak akan belajar  dan menjadi
berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan
mencoba serta berusaha berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya. Maka dari
itu, pendidikan IPS adalah salah satu upaya yang akan membawa kesadaran
terhadap ruang, waktu,  dan  lingkungan sekitar bagi anak.
Berbagai cara dan metode dikaji untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak itu
dipahami anak. Itulah sebabnya IPS di SD bergerak dari yang kongkrit ke yang
abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas dan
pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang
sempit menjadi luas, dari yang dekat  ke yang jauh, dan seterusnya  IPS merupakan
bidang studi yang mempelajari,  mengolah, dan membahas hal-hal yang
berhubungan dengan masalah-masalah interaksi manusia hingga benar-benar dapat
dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya merupakan bentuk yang
terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, kemudian disederhanakan
sesuai dengan kepentingan sekolah-sekolah. Dengan demikian IPS yang
dilaksanakan baik di pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi tidak menekankan
 
Pendahuluan
 pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah,
mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya
disesuaikan dengan  jenjang pendidikan masing-masing. Kajian masyarakat dalam
IPS dapat dilakukan dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan negara  lain, baik
yang ada di masa  sekarang atau di masa lampau. Dengan demikian peserta didik
yang mempelajari IPS dapat menghayati masa sekarang dengan dibekali
pengetahuan tentang masa lampau umat.
B. Tujuan
Tujuan disusunnya modul ini adalah untuk memberikan pemahaman yang lengkap
dan jelas tentang Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar kelas tingi secara teori
dan implementasinya dalam rangka menunjang  peningkatan  kompetensi guru
pasca Uji Kompetensi Guru.
C. Peta Kompetensi
1. Menjelaskan tentang materi keilmuan IPS.
2. Menguasai materi keilmuan yang meliputi dimensi pengetahuan, nilai, dan
keterampilan IPS.
3. Mengembangkan materi, struktur, dan konsep keilmuan IPS.
4. Memahami cita-cita, nilai, konsep, dan prinsip-prinsip pokok ilmu-ilmu sosial

dalam konteks  kebhinnekaan masyarakat Indonesia dan dinamika kehidupan
global
D. Ruang Lingkup
1. Hakekat Ilmu Pengetahuan Sosial
2. Kajian materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
3. Kebhinnekaan masyarakat Indonesia dan dinamika kehidupan global
E. Saran Cara penggunaan modul
Untuk membantu  anda dalam menguasai kemampuan  di atas, materi dalam modul
ini dibagi menjadi beberapa kompetensi yang harus dikuasai seperti dalam ruang
lingkup diatas. Anda dapat mempelajari keseluruhan modul ini dengan  cara yang

 Modul Pelatihan SD Kelas Awal
berurutan. Jangan memaksakan diri sebelum benar-benar menguasai bagian demi
bagian dalam modul ini, karena masing-masing saling berkaitan.
Setiap kegiatan pembelajaran dilengkapi dengan uji kepahaman dan uji kompetensi
yang berupa aktifitas pembelajaran. Uji kepahaman dan uji kompetensi menjadi alat
ukur tingkat penguasaan anda setelah mempelajari  materi dalam modul ini. Jika
anda belum menguasai 75% dari setiap kegiatan, maka anda dapat mengulangi
untuk mempelajari materi yang tersedia dalam modul ini. Apabila anda masih
mengalami kesulitan memahami materi yang ada dalam  modul ini, silahkan
diskusikan dengan teman atau Instruktur anda.

LANGKAH-LANGKAH SKENARIO MELAKSANAKAN MATERI DIKLAT DENGAN PENDEKATAN ANDRAGOGI

LANGKAH-LANGKAH SKENARIO
MELAKSANAKAN MATERI DIKLAT DENGAN PENDEKATAN ANDRAGOGI


Langkah-langkah:
1.     Mengalami
Pada fase ini melibatkan peserta pelatihan secara aktif dalam kegiatan sebagai upaya untuk memotivasi peserta agar mereka terlibat secara aktif selama proses pelatihan berlangsung.
Yang dapat dilakukan untuk melibatkan peserta secara aktif:
·       Brainstorming
·       Membangun apersepsi dengan melakukan tanya jawab, misalnya apa yang mereka harapkan dalam pelatihan ini.
·       Mengenalkan hal-hal yang benar-benar dirasakan baru yang sebelumnya tidak atau belum dikenal oleh peserta pelatihan. Pengkondisian ini diharapakan dapat menumbuhkan “rasa butuh” kepada peserta pelatihan tentang materi pelatihan.

2.     Mengungkapkan
Di fase ini pelatih memberikan kesempatan kepada peserta pelatihan untuk berkehendak atau mengemukakan pikiran dan perasaannya.
Kegiatan yang dapat dilakukan pelatih agar peserta pelatihan memiliki banyak ruang untuk menyampaikan pikiran, ide, dan perasaannya antara lain:
·       Melakukan diskusi-informasi dalam kelompok-kelompok, diusahakan bahan yang akan didiskusikan merupakan bahan yang benar-benar dibutuhkan oleh peserta pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya, menambah wawasan kependidikannya, dan lain-lainnya.
·       Curah gagasan, curah pendapat, diusahakan agar peserta pelatihan lebih banyak diberi kesempatan untuk menyapaikan gagasan dan ide-idenya dan pelatih lebih banyak memfasilitasi serta memberi penguatan.
·       Mempresentasikan hasil pemikiran dan ide-idenya dalam berbagai tampilan (grafik, tabel, peta pikiran, diagram, tulisan, dan sebagainya).

3.     Menganalisis
Dalam fase ini, pelatih harus lebih cermat dan jeli untuk selalu mengamati peserta pelatihan ketika mereka sedang berdiskusi atau melakukan pekerjaan lainnya, mengamati tingkat respon peserta pelatihan ketika pelatih memberikan permasalahan untuk diselesaikan, mencermati bagaimana strategi pemecahan masalah yang diusulkan (kreatif, logis, dapat memecahkan masalah), mengamati perilakunya selama pelatihan berlangsung (aktif, pendiam, ceria dan sebagainya).
Hasil pengamatan dijadikan bahan evaluasi bagi pelatih sebagai untuk refleksi dan evaluasi diri pelatih untuk perbaikan ke depan.
Untuk melakukan pengamatan dan pemantauan terhadap kegiatan peserta dipat digunakan instrumen:
·       Lembar observasi


4.     Menggeneralisir
Hasil-hasil kegiatan kemudian disimpulkan bersama-sama, antara peserta pelatihan dipimpin oleh pelatih. Kemudian pelatih mengkaitkan hasil-hasil kegiatan dengan yang dalam kehidupan sehari-hari sehingga kegiatan pelatihan lebih bermakna pada diri setiap peserta pelatihan karena relevan dengan kebutuhan.

5.     Menerapkan
Dalam fase ini diharapkan hasil-hasil pelatihan dapat diterapkan dalam situasi baru oleh peserta pelatihan. Untuk membantu agar peserta pelatihan dapat menerapkannya, yang dapat dilakukan oleh pelatih yaitu:
·       Menumbuhkan rasa  butuh kepada peserta pelatihan

·       Menumbuhkan rasa tanggungjawab